← Kembali ke arsip tulisan
Refleksi

Seribu Kemungkinan dan Satu Ketetapan

Pagi itu matahari perlahan naik. Cahaya mulai masuk dari sela-sela jendela, seperti pagi-pagi sebelumnya, tanpa pernah kita tahu ingatan apa yang akan ikut terbangun bersamanya. Seperti biasa, saya memulai hari…

Ilustrasi untuk Seribu Kemungkinan dan Satu Ketetapan
IlustrasiIlustrasi untuk Seribu Kemungkinan dan Satu Ketetapan
Bagikan artikel
WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn

Pagi itu matahari perlahan naik. Cahaya mulai masuk dari sela-sela jendela, seperti pagi-pagi sebelumnya, tanpa pernah kita tahu ingatan apa yang akan ikut terbangun bersamanya.

Seperti biasa, saya memulai hari dengan ritual kecil yang nyaris mekanis, membuka email, memeriksa beberapa grup, lalu membiarkan jari menggulir media sosial tanpa benar-benar mencari apa pun.

Sampai sebuah konten membuat saya berhenti.

Aneh memang cara ingatan bekerja. Ia tidak selalu mengetuk pintu. Kadang hanya sebuah gambar, sebuah kalimat, atau sesuatu yang sangat sederhana, lalu tiba-tiba kita telah berada lima belas tahun di belakang.

Saya teringat masa ketika masih berada di ibu kota.

Dulu, saya cukup sering diajak bos makan di berbagai restoran. Beliau selalu bersemangat memperkenalkan makanan baru. Setiap restoran seperti sebuah negeri kecil dengan rasa dan ceritanya sendiri.

Tetapi ada satu hal yang hampir selalu sama.

Ketika pelayan bertanya tentang minuman, jawaban saya sederhana

Jus mangga.

Bos saya sering tertawa.

“Jus mangga lagi?”

Saya ikut tertawa.

Di hadapan saya sebenarnya terbentang daftar minuman yang panjang. Ada yang namanya asing, warnanya lebih menarik, harganya lebih mahal, dan mungkin rasanya jauh lebih istimewa.

Tetapi saya tetap memilih jus mangga.

Bukan karena tidak memiliki pilihan.

Justru karena saya memiliki pilihan.

Dulu saya menggangapnya sederhana, saya suka jus mangga, selesai

Pagi ini, saya baru merasa bahwa mungkin cerita kecil itu tidak pernah benar-benar berbicara tentang minuman.

Ia berbicara tentang manusia.

Tentang betapa hidup adalah sebuah daftar menu yang tidak pernah selesai ditulis.

Selalu ada yang baru.

Selalu ada yang terlihat lebih menarik dari kejauhan.

Selalu ada kemungkinan lain yang membuat kita bertanya diam-diam.

"Bagaimana kalau yang itu ternyata lebih baik?"

Dan barangkali di situlah kegelisahan manusia bermula.

Kita sering mengira kebebasan berarti mencoba sebanyak mungkin pilihan.

Padahal Kierkegaard mengingatkan kita, dalam berbagai renungannya tentang pilihan, bahwa hidup memperoleh bentuk justru ketika manusia memilih dan bersedia berdiri di dalam pilihannya. Sebab memilih bukan sekadar mengatakan ya kepada sesuatu. Memilih juga berarti berdamai dengan ribuan kemungkinan yang kita biarkan berlalu.

Dalam cinta pun demikian.

Erich Fromm pernah membawa cinta keluar dari wilayah perasaan semata. Baginya, cinta bukan sekadar sesuatu yang terjadi kepada manusia. Cinta adalah sesuatu yang dikerjakan, sebuah seni yang membutuhkan perhatian, tanggung jawab, pengetahuan, dan kesungguhan.

Mungkin karena itulah cinta yang matang tidak selalu berbunyi "Aku memilihmu karena tidak ada yang lebih menarik."

Kadang ia justru berkata

"Aku tahu dunia luas. Aku tahu selalu ada kemungkinan lain. Tetapi aku tidak membutuhkan seluruh kemungkinan itu untuk mengetahui nilai dari apa yang telah kutemukan."

Sebab manusia mempunyai satu kelemahan yang aneh,Kita mudah terpukau oleh sesuatu yang belum kita miliki.

Yang jauh terlihat sempurna karena kita belum mengenal kekurangannya. Yang baru terasa menggairahkan karena kita belum menjalani kebiasaannya. Sedangkan sesuatu yang telah lama berada di samping kita perlahan kehilangan keajaibannya bukan karena nilainya berkurang, tetapi karena mata kita telah terlalu terbiasa melihatnya.

Kita kemudian menyebut kebosanan sebagai hilangnya cinta.

Padahal mungkin yang hilang hanyalah kemampuan untuk melihat kembali.

Alain Badiou memandang cinta sebagai kesetiaan terhadap sebuah peristiwa perjumpaan dua manusia bertemu, lalu dari perjumpaan itu belajar melihat dunia bukan lagi hanya dari sudut aku, tetapi dari sudut kita.

Maka cinta bukan sekadar menemukan seseorang.

Yang jauh lebih sulit adalah terus menemukan orang yang sama, berkali-kali, setelah kita merasa telah mengenalnya.

Mungkin itulah sebabnya yang paling menggoda dalam hidup bukan selalu sesuatu yang lebih baik.

Kadang hanya sesuatu yang belum kita kenal.

Rasa penasaran mempunyai kemampuan luar biasa untuk menghias pintu yang belum pernah kita buka. Sementara kebiasaan mempunyai kemampuan yang sama kuatnya untuk membuat rumah sendiri terlihat biasa.

Kita memandang cahaya dari jendela rumah orang lain dan membayangkan kehangatan di dalamnya.

Lalu lupa bahwa seseorang mungkin sedang memandang cahaya dari rumah kita dengan imajinasi yang sama.

Pada titik tertentu, kedewasaan mungkin bukan lagi tentang berapa banyak rasa yang pernah kita coba.

Melainkan tentang kemampuan membedakan antara sesuatu yang benar-benar kita butuhkan dan sesuatu yang hanya sedang menggoda rasa penasaran.

Sebab tidak semua kemungkinan harus menjadi pengalaman.

Tidak semua pintu harus dibuka untuk mengetahui bahwa rumah kita layak untuk ditinggali.

Dan tidak semua yang tampak lebih manis perlu dicicipi untuk membuat kita menghargai rasa yang selama ini menemani.

Pagi semakin terang.

Saya tersenyum sendiri mengingat restoran-restoran itu, gurauan bos saya, dan segelas jus mangga yang selalu datang ke meja.

Saya akhirnya memahami sesuatu yang mungkin terlalu besar untuk diajarkan oleh segelas minuman

barangkali cinta yang paling dewasa bukanlah ketika dunia berhenti menawarkan pilihan. Melainkan ketika dunia masih menyediakan seribu kemungkinan, rasa penasaran masih hidup, pintu-pintu lain masih terbuka tetapi kita tidak lagi merasa harus memasukinya.

Bukan karena tidak mampu pergi

Bukan karena takut menemukan rasa yang berbeda

Tetapi karena setelah cukup lama berjalan, kita mulai memahami perbedaan antara mencari yang lebih baik dan merawat sesuatu agar tetap baik.

Dan mungkin, di situlah cinta berubah dari perasaan menjadi keputusan.

Dari rasa menjadi sikap

Dari menemukan menjadi merawat

Seperti segelas jus mangga itu

Bukan satu-satunya yang tersedia di menu.

Sebab kita sering mengira cinta adalah menemukan sesuatu yang paling sempurna. Padahal boleh jadi cinta justru dimulai ketika pencarian itu berhenti ketika kita tidak lagi sibuk membandingkan apa yang berada di hadapan kita dengan segala kemungkinan yang belum pernah kita jalani.

Bagikan artikel
WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn