← Kembali ke arsip tulisan
FilmRefleksi

Barangkali yang Patah Bukan Hati

Ada cinta yang berakhir dengan perpisahan. Ada pula yang berakhir ketika kepercayaan tak lagi menemukan jalan pulang.

Ilustrasi untuk Barangkali yang Patah Bukan Hati
IlustrasiIlustrasi untuk Barangkali yang Patah Bukan Hati
Bagikan artikel
WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn

Sepertinya saya mulai benar-benar menikmati serial Her Blaze. Semakin jauh mengikuti ceritanya, semakin banyak hal menarik yang membuat saya betah menonton. Bukan hanya karena intrik dan konflik antartokohnya, tetapi karena ada dialog-dialog sederhana yang terkadang justru meninggalkan kesan lebih lama daripada adegan itu sendiri.

Saya memang suka menonton film. Kadang bukan karena ceritanya luar biasa, tetapi karena ada satu atau dua dialog yang terasa begitu dekat dengan kehidupan. Kalimat yang mungkin hanya lewat beberapa detik di layar, tetapi entah mengapa terus tinggal dalam pikiran.

Seperti yang saya temukan dalam episode terbaru Her Blaze.

Liang, perempuan yang sebelumnya tega mengkhianati sahabatnya sendiri, Ru Chi, kini kembali terlibat dalam sebuah permainan kepentingan. Kali ini dengan Xian Pengyu, seorang pengusaha yang ternyata pernah menjadi selingkuhannya ketika ia masih menjalin hubungan dengan Bai Murang.

Xian memiliki dendam pribadi terhadap pimpinan perusahaan tempat Ru Chi bekerja. Liang menjanjikan bantuan. Ketika pertarungan dimulai, justru Liang yang berbalik mengkhianatinya.

Saya sempat berpikir, rupanya Liang masih saja seperti dulu. Ada orang yang belajar dari kesalahan, tetapi ada pula yang begitu terbiasa mengkhianati hingga kesetiaan seolah menjadi sesuatu yang asing dalam hidupnya.

Bukan pengkhianatan itu yang paling menarik perhatian saya.

Ternyata Xian benar-benar mencintai Liang. Bahkan ia telah berniat melamarnya. Di tengah kekecewaan karena dikhianati perempuan yang dicintainya, Xian mengucapkan sebuah kalimat yang membuat saya terdiam.

"Aku tidak menyangka, hal yang paling aku sukai darimu justru menjadi hal yang paling melukaiku."

Saya mengulang kalimat itu dalam pikiran.

Betapa anehnya cinta.

Kita bisa jatuh hati kepada seseorang karena keberaniannya, kecerdasannya, atau mungkin karena sifatnya yang berbeda dari orang lain. Kita mengagumi semua itu, bahkan menganggapnya sebagai alasan mengapa ia begitu istimewa.

Tetapi siapa yang menyangka, sesuatu yang dahulu membuat kita jatuh cinta justru bisa menjadi alasan mengapa suatu hari kita begitu terluka?

Mungkin Xian mencintai keberanian Liang, termasuk keberaniannya mengambil risiko dan menghadapi siapa pun demi mencapai tujuannya. Ia lupa bahwa keberanian yang tidak disertai kejujuran juga bisa digunakan untuk mengkhianati orang yang mencintainya.

Dan di situlah letak ironinya.

Kadang kita tidak terluka karena orang yang kita cintai berubah. Kita terluka karena akhirnya mengenal sisi dirinya yang selama ini tidak ingin kita percayai.

Adegan itu tiba-tiba mengingatkan saya pada sebuah film yang pernah saya tonton sekitar tahun 2019, Judulnya Break Up 100.

Saya masih mengingat garis besar ceritanya. Tentang sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan cukup lama. Mereka saling menyayangi, memiliki begitu banyak kenangan, tetapi juga menjalani hubungan yang penuh pertengkaran. Entah karena perbedaan sifat, ego, atau persoalan-persoalan kecil yang terus berulang, hubungan mereka berkali-kali berakhir dengan perpisahan.

Setiap kali berpisah, mereka selalu menemukan jalan untuk kembali.

Begitu terus. Bertengkar, berpisah, saling merindukan, lalu kembali bersama. Seolah-olah perpisahan hanyalah jeda singkat sebelum mereka melanjutkan kisah yang sama.

Ada satu hal menarik dari hubungan mereka. Tidak peduli siapa yang bersalah, si laki-laki selalu menjadi orang pertama yang datang meminta maaf.

Bahkan ketika ia tidak melakukan kesalahan, ia tetap memilih mengalah. Bukan karena ia tidak memiliki harga diri, melainkan karena baginya mempertahankan hubungan jauh lebih penting daripada memenangkan pertengkaran.

Lama-kelamaan, kebiasaan itu membuat si perempuan begitu yakin bahwa kekasihnya tidak akan pernah benar-benar pergi.

Setiap kali mereka bertengkar, ia tidak lagi terlalu mengkhawatirkan perpisahan. Ia tahu, seperti biasa, laki-laki itu akan datang. Mungkin membawa permintaan maaf, mungkin dengan sedikit bujukan, lalu semuanya kembali seperti semula.

Tanpa disadarinya, ia mulai menganggap kesabaran seseorang sebagai sesuatu yang tidak akan pernah habis.

Sampailah hubungan mereka pada perpisahan yang keseratus.

Seperti sembilan puluh sembilan perpisahan sebelumnya, si perempuan masih begitu tenang. Ia yakin laki-laki itu akan kembali. Bukankah selama ini selalu begitu?

Tetapi kali ini berbeda.

Hari demi hari berlalu. Tidak ada kabar. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada lagi laki-laki yang datang membujuknya untuk kembali.

Untuk pertama kalinya, orang yang selama ini selalu memilih mengalah ternyata memilih diam.

Mungkin pada awalnya si perempuan menganggap kekasihnya hanya sedang marah. Barangkali ia membutuhkan waktu lebih lama untuk menenangkan diri.

Semakin lama menunggu, semakin ia menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan.

Laki-laki itu ternyata bisa juga pergi tanpa kembali.

Ada sebuah adegan yang masih membekas dalam ingatan saya. Ketika si perempuan akhirnya mempertanyakan mengapa kali ini kekasihnya tidak datang meminta maaf seperti biasanya, mengapa ia tidak lagi berusaha memperbaiki hubungan mereka, laki-laki itu menjawab dengan kalimat yang kurang lebih berbunyi:

"Dulu aku mengira hal yang paling sulit adalah ketika harus berpisah darimu. Tetapi ternyata aku salah. Hal yang paling sulit adalah ketika aku sudah tidak tahu lagi dengan cara apa aku harus mencintaimu."

Saya selalu merasa kalimat itu menyimpan kesedihan yang sangat sunyi.

Si perempuan tidak kehilangan kekasihnya hanya karena satu pertengkaran terakhir. Ia kehilangan seseorang yang selama ini selalu datang kembali, tetapi tidak pernah benar-benar ia pahami kelelahan hatinya.

Ada yang pergi bukan karena tidak lagi menyayangi, tetapi karena terlalu lama menjadi satu-satunya orang yang berusaha mempertahankan hubungan.

Dan ketika orang seperti itu akhirnya berhenti meminta maaf, mungkin bukan karena ia merasa paling benar.

Bisa jadi, karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa dirinya juga berhak untuk dimengerti.

Sebab ada saatnya seseorang masih mencintai, tetapi sudah kehabisan cara untuk mempertahankan hubungan. Ia masih ingin tinggal, tetapi setiap usaha untuk bertahan justru menambah luka.

Barangkali yang membuat seseorang akhirnya menyerah bukan karena cintanya telah habis. Bisa jadi karena ia sudah terlalu lama berusaha sendirian.

Saya kemudian teringat sebuah ungkapan tentang cinta dari Kahlil Gibran:

"Jika kau mencintai seseorang, biarkan dia pergi. Jika dia kembali, dia akan selalu menjadi milikmu. Dan jika dia tidak kembali, mungkin memang dia tidak ditakdirkan untukmu."

Dulu, saya memahami kalimat itu sebagai nasihat tentang kesabaran dalam mencintai. Bahwa jika cinta memang ditakdirkan, sejauh apa pun seseorang pergi, ia akan menemukan jalan untuk kembali.

Namun, semakin banyak kisah kehidupan yang saya dengar, semakin saya merasa bahwa persoalannya tidak sesederhana pergi dan kembali.

Bagaimana jika seseorang kembali hanya karena ia tidak menemukan apa yang diinginkannya di tempat lain? Bagaimana jika ia kembali bukan karena cinta, melainkan karena mengetahui bahwa masih ada hati yang selalu bersedia menerimanya?

Apakah setiap kepulangan harus disambut?

Saya kira tidak.

Sebab cinta bukan hanya tentang siapa yang memilih kembali, tetapi juga tentang siapa yang mampu menjaga kepercayaan ketika diberi kesempatan untuk tinggal.

Bagikan artikel
WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn