← Kembali ke arsip tulisan
PendidikanRefleksi

Jangan Wariskan Cara yang Pernah Melukaimu

Entah sudah pukul berapa malam itu. Saya hanya ingat, sekitar pukul sepuluh malam saya sudah tertidur. Mungkin karena tubuh sedang membutuhkan istirahat karena seharian mengurusi administrasi rawat inap di tamb…

Ilustrasi untuk Jangan Wariskan Cara yang Pernah Melukaimu
IlustrasiIlustrasi untuk Jangan Wariskan Cara yang Pernah Melukaimu
Bagikan artikel
WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn

Entah sudah pukul berapa malam itu.

Saya hanya ingat, sekitar pukul sepuluh malam saya sudah tertidur. Mungkin karena tubuh sedang membutuhkan istirahat karena seharian mengurusi administrasi rawat inap di tambah ada beberapa pemeriksaan yang harus di lakukan untuk persiapan operasi besoknya, tidur saya cukup lelap. Sampai kemudian, entah berapa lama setelah itu, saya tiba-tiba terbangun.

Pintu kamar terbuka.

Masuklah beberapa orang dokter. Dari penampilan dan cara mereka berinteraksi, saya menduga ada seorang dokter senior, seorang dokter residen, dan beberapa dokter muda atau co-ass yang ikut dalam kunjungan malam itu.

Saya mengenali dokter residen tersebut. Sekitar pukul delapan malam sebelumnya, ia memang sudah datang menemui saya. Ia bertanya tentang kondisi saya, termasuk apakah sebelumnya saya pernah menjalani operasi.

Kini ia datang kembali bersama dokter senior dan rombongan dokter muda.

Di hadapan dokter senior, residen tersebut mulai melaporkan kondisi saya. Ia menjelaskan apa yang diketahuinya, pemeriksaan yang telah dilakukan, serta beberapa hal berkaitan dengan persiapan penanganan saya.

Saya hanya berbaring dan mendengarkan.

Sebagian besar percakapan mereka menggunakan istilah medis yang tidak sepenuhnya saya pahami. Tetapi ada sesuatu yang sangat mudah saya tangkap, dokter senior itu beberapa kali tidak puas dengan laporan dokter residen.

Penjelasannya beberapa kali dipotong dan dikoreksi.

Saya tidak tahu persis apa yang kurang. Saya bukan dokter. Dalam pikiran saya, mungkin memang ada informasi yang seharusnya disampaikan lebih lengkap. Apalagi ini menyangkut kondisi pasien yang akan menjalani suatu tindakan medis.

Sampai kemudian terjadi satu momen yang membuat saya sendiri merasa canggung.

Dokter residen menyampaikan beberapa pemeriksaan atau tindakan seolah telah dilakukan. Dokter senior kemudian menoleh kepada saya untuk memastikan.

 

“Sudah diperiksa?”

Saya terdiam sesaat.

Seingat saya, ada beberapa bagian pemeriksaan yang sebenarnya belum dilakukan.

Saya memandang dokter residen itu. Ia sudah beberapa kali mendapat teguran malam itu. Di sekelilingnya berdiri pula sejumlah dokter muda yang menyaksikan.

Entah karena kasihan, entah karena tidak ingin membuat keadaan semakin sulit baginya, saya akhirnya menjawab kepada dokter senior bahwa dokter tersebut sudah memeriksa saya.

Percakapan kemudian berlanjut.

Tetapi setelah mereka meninggalkan ruangan, justru saya yang mulai berpikir.

Apakah jawaban saya tadi benar?

Niat saya sederhana, saya tidak ingin dokter residen itu kembali mendapat teguran. Tetapi di sisi lain, saya adalah pasien. Jika memang ada pemeriksaan yang seharusnya dilakukan tetapi belum dilakukan, bukankah itu juga menyangkut diri saya sendiri?

Pikiran itu terbawa sampai keesokan harinya.

Ketika berada di sekitar ruang operasi, saya bertemu dengan seorang teman sejawat dokter residen tersebut, dokter yang malam sebelumnya beberapa kali mendapat teguran dari seniornya.

Saya kemudian bertanya kepadanya kurang lebih begini,

“Dok, apakah saya perlu diperiksa lagi?”

Saya menceritakan apa yang terjadi malam sebelumnya. Saya sampaikan bahwa ada pemeriksaan yang sebenarnya belum dilakukan, tetapi ketika dokter senior meminta konfirmasi, saya mengatakan sudah.

Terus terang, saya mulai khawatir.

Bukan karena saya ingin mempermasalahkan dokter tersebut. Justru sebaliknya. Malam sebelumnya saya mencoba menolongnya agar tidak kembali mendapat teguran. Tetapi pagi itu saya sadar bahwa ada batas antara menolong seseorang keluar dari situasi yang tidak nyaman dan memastikan sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan diri kita sendiri dilakukan sebagaimana mestinya.

Saya akan menjalani operasi.

Bagaimanapun juga, saya ingin memastikan tidak ada sesuatu yang terlewat yang nantinya justru berpengaruh pada tindakan operasi terhadap saya.

Pengalaman malam itu akhirnya memberikan pelajaran yang lebih panjang daripada sekadar menyaksikan seorang senior menegur juniornya.

Saya teringat pesan seorang  guru saya sewaktu lagi menempu studi:

“Orang yang sedang menempuh pendidikan harus bersedia mengurangi sebagian kenikmatannya untuk sementara.”

Menuntut ilmu memang tidak selalu nyaman.

Ada saat kita dipuji karena benar. Ada saat kita ditegur karena keliru. Ada waktunya kita merasa sudah mengetahui banyak hal, lalu seseorang menunjukkan bahwa ternyata masih ada yang harus kita pelajari.

Tetapi malam itu saya juga belajar bahwa proses pendidikan bukan hanya tentang bagaimana seorang murid menerima koreksi.

Ia juga tentang bagaimana seorang guru memberikan koreksi.

Ketegasan diperlukan. Terlebih dalam dunia kedokteran, ketika ketelitian seseorang dapat berkaitan langsung dengan keselamatan manusia. Tetapi ketegasan dan penghormatan terhadap orang yang sedang belajar semestinya dapat berjalan bersama.

Dan ada satu pelajaran lagi yang justru saya dapatkan dari diri saya sendiri malam itu:

rasa iba tidak boleh membuat kita mengabaikan kebenaran.

Niat kita mungkin ingin melindungi seseorang dari rasa malu. Tetapi ketika menyangkut keselamatan, terlebih keselamatan pasien, sesuatu yang belum dilakukan tetap harus dikatakan belum dilakukan.

Jika suatu hari saya bertemu kembali dengan dokter residen itu, ada satu pesan yang ingin saya sampaikan:

“Dok, mungkin malam itu tidak nyaman bagimu. Tetapi simpanlah pengalaman itu. Jika suatu saat engkau telah menjadi dokter senior dan berdiri di hadapan seorang residen yang sedang belajar, ingatlah bagaimana rasanya berada di posisinya. Koreksi kesalahannya, ajarkan apa yang benar, tetapi jika memungkinkan jangan membuatnya kehilangan harga diri di hadapan orang-orang yang sedang belajar darinya.”

Sebab  seorang guru tidak hanya dikenang karena seberapa banyak ilmu yang diajarkannya, tetapi juga karena bagaimana ia memperlakukan seseorang ketika orang itu belum tahu, belum mampu, atau melakukan kesalahan.

Dan bagi kami yang menjadi pasien, malam itu mengajarkan sesuatu yang tidak kalah penting:

berempati kepada dokter adalah hal yang manusiawi, tetapi jujur tentang apa yang telah dan belum dilakukan adalah bagian dari menjaga keselamatan kita sendiri.

Bagikan artikel
WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn