← Kembali ke arsip tulisan
FilmRefleksi

Di Balik Wajah Persahabatan

Tentang ketulusan, kepentingan, dan manusia yang kadang lebih pandai menyembunyikan niat daripada mengungkapkan perasaan.

Ilustrasi untuk Di Balik Wajah Persahabatan
IlustrasiIlustrasi untuk Di Balik Wajah Persahabatan
Bagikan artikel
WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn

Akhir-akhir ini, saya lebih banyak menghabiskan waktu senggang dengan menonton film. Pilihannya cukup beragam, mulai dari thriller yang menguji rasa penasaran, horor yang sesekali membuat bulu kuduk berdiri, hingga drama yang terkadang justru meninggalkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan.

Saya selalu berpikir bahwa film, sebaik apa pun ceritanya, hanyalah sebuah karya imajinasi. Ada kalanya sebuah cerita fiksi terasa begitu dekat dengan kenyataan. Bukan karena kita pernah mengalami seluruh peristiwanya, melainkan karena kita pernah bertemu dengan manusia-manusia yang memiliki karakter serupa.

Sampailah saya pada sebuah serial berjudul Her Blaze.

Awalnya saya menontonnya seperti biasa, tanpa ekspektasi apa pun. Tetapi semakin jauh mengikuti jalan ceritanya, semakin saya merasa bahwa serial ini sedang memperlihatkan salah satu sisi paling rumit dari kehidupan manusia: ketika persahabatan, cinta, ambisi, dan kepentingan bercampur menjadi sesuatu yang sulit dibedakan.

Menariknya, di tengah cerita yang cukup serius itu, ingatan saya justru melompat ke masa SMA. Sebuah kenangan yang kalau dipikir sekarang cukup menggelikan, meskipun di dalamnya tersimpan sedikit pelajaran tentang bagaimana manusia kadang memanfaatkan hubungan untuk mencapai sesuatu.

Tetapi sebelum sampai ke sana, saya ingin bercerita sedikit tentang film ini.

Dalam Her Blaze, dikisahkan empat orang sahabat, dua perempuan dan dua laki-laki, yang bersama-sama membangun sebuah perusahaan. Di antara mereka terdapat seorang perempuan bernama Ru Chi, sosok yang memiliki kecerdasan luar biasa. Ia berteman dekat dengan Liang, perempuan yang telah dikenalnya sejak masa kuliah.

Sebagaimana persahabatan pada umumnya, kedekatan mereka tampak dibangun di atas kepercayaan, cita-cita, dan keinginan untuk meraih kesuksesan bersama, Ternyata tidak semua orang yang berjalan bersama memiliki tujuan yang sama.

Liang mengetahui bahwa kecerdasan Ru Chi merupakan aset yang sangat berharga bagi perusahaan yang sedang mereka rintis. Ia menyadari bahwa kemampuan Ru Chi dapat menjadi jalan untuk membawa perusahaan tersebut menuju kesuksesan.

Sayangnya, di balik persahabatan itu, Liang menyimpan rencana lain.

Ia meminta Bai Muran, teman laki-laki mereka yang sebenarnya telah lama menjadi kekasihnya, untuk mendekati dan menjalin hubungan asmara dengan Ru Chi.

Bayangkan, seorang perempuan yang mengira dirinya sedang menemukan cinta, ternyata hanya sedang menjalani sebuah hubungan yang telah dirancang untuk kepentingan orang lain.

Bagi Ru Chi, Bai adalah seseorang yang dicintainya. Liang adalah sahabat yang dipercayainya. Dua orang yang mungkin memiliki tempat istimewa dalam kehidupannya.

Tetapi bagi Liang dan Bai, Ru Chi hanyalah jalan menuju sesuatu yang lebih besar.

Dan di sinilah saya melihat sebuah ironi yang menyedihkan, kadang orang yang paling tulus dalam sebuah hubungan justru menjadi orang terakhir yang mengetahui bahwa hubungan itu tidak pernah setulus yang dibayangkannya.

Waktu berlalu. Perusahaan yang mereka rintis berkembang pesat berkat kontribusi kecerdasan Ru Chi. Namun, ketika kesuksesan mulai berada dalam genggaman, Liang dan Bai justru menyusun rencana untuk menyingkirkannya.

Mereka menciptakan keadaan seolah-olah Ru Chi mengalami gangguan mental, hingga akhirnya perempuan itu harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Setelah Ru Chi tersingkir, perusahaan tersebut dijual kepada perusahaan yang lebih besar. Liang kemudian memperoleh promosi dan menikmati hasil dari sebuah keberhasilan yang dibangun di atas kecerdasan orang yang telah dikhianatinya.

Yang lebih menyakitkan, Liang beberapa kali mengunjungi Ru Chi di rumah sakit. Bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk mengungkapkan bahwa hubungan cinta antara Ru Chi dan Bai selama ini hanyalah sandiwara. Bahwa Bai sesungguhnya telah lama menjadi kekasih Liang.

Saya membayangkan betapa menyakitkannya mengetahui bahwa orang yang kita cintai dan sahabat yang kita percayai ternyata memainkan peran dalam skenario yang sama.

Ada pengkhianatan yang merampas apa yang kita miliki. Tetapi ada pula pengkhianatan yang jauh lebih kejam: ia merampas kemampuan kita untuk mempercayai orang lain.

Dan barangkali, luka yang kedua jauh lebih sulit disembuhkan.

Anehnya, menyaksikan kisah ini justru membuat saya teringat pada masa SMA.

Dulu, saya bersama beberapa teman sekelas pernah bersekongkol untuk menjodohkan, bahkan memaksa salah seorang teman perempuan kami agar mau berpacaran dengan seorang teman laki-laki sekelas yang terkenal sangat pintar dalam pelajaran kimia.

Jangan membayangkan ada kisah romantis di balik rencana itu.

Tidak ada cerita cinta pada pandangan pertama. Tidak ada pula perasaan mendalam yang membuat kami merasa perlu memperjuangkan hubungan mereka.

Tujuan kami sangat sederhana, bahkan kalau dipikir sekarang cukup konyol.

Kami berharap kalau mereka berpacaran, teman laki-laki yang pintar kimia itu mau memberikan jawaban ujian kepada pacarnya, dan dari pacarnya itulah jawaban tersebut bisa sampai kepada kami.

Hahaha.

Ternyata sejak SMA kami sudah mengenal apa yang sekarang mungkin disebut strategi membangun jaringan berbasis kepentingan.

Kalau Liang menggunakan hubungan asmara untuk membangun perusahaan, kami justru berusaha membangun hubungan asmara untuk menyelamatkan nilai ujian kimia.

Tentu saja, kisah kenakalan masa SMA itu tidak bisa dibandingkan dengan pengkhianatan yang dialami Ru Chi. Namun, ketika mengingatnya kembali, saya justru menemukan sesuatu yang menarik untuk direnungkan.

Ternyata sejak usia muda pun manusia sudah bisa berpikir bahwa kedekatan dengan seseorang dapat menjadi jalan untuk memperoleh sesuatu.

Kami mungkin menganggapnya sekadar kelakar dan kenakalan remaja. Tetapi sekarang saya menyadari bahwa di balik kelucuan itu terdapat persoalan yang lebih mendasar: kami pernah mencoba menjadikan hubungan dua orang sebagai alat untuk kepentingan kami sendiri.

Dan semakin dewasa, saya melihat bahwa pola semacam itu tidak selalu menghilang.

Ia hanya berubah bentuk.

Dulu mungkin kepentingannya sebatas jawaban ujian kimia. Ketika dewasa, kepentingannya bisa berupa jabatan, uang, kekuasaan, pengaruh, pengakuan, bahkan kehormatan.

Saya kemudian teringat pada pemikiran filsuf Immanuel Kant, yang menempatkan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan orang lain.

Pemikiran ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung tuntutan moral yang sangat dalam.

Sebab dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari, betapa sering hubungan antarmanusia dibangun di atas pertanyaan yang tidak pernah diucapkan: Apa yang bisa saya dapatkan dari orang ini?

Di lingkungan kerja, misalnya, kita mungkin pernah menemukan seseorang yang begitu ramah ketika membutuhkan bantuan. Ia memuji kemampuan kita, mendukung gagasan kita, bahkan tidak segan menyebut kita sebagai sahabat.

Namun, ketika tujuan pribadinya telah tercapai, perlahan sikapnya berubah.

Orang yang dahulu begitu sering mencari kita tiba-tiba menjadi asing. Orang yang dahulu memuji pekerjaan kita mulai menemukan berbagai kesalahan. Bahkan, tidak jarang seseorang yang pernah menikmati hasil kerja kita justru menjadi orang yang paling bersemangat mengecilkan kontribusi kita.

Ada pula mereka yang di depan tampak memberikan dukungan, tetapi di belakang diam-diam membangun opini untuk merusak reputasi kita.

Di hadapan kita, ia berbicara tentang kerja sama. Di hadapan orang lain, ia mempertanyakan kemampuan kita.

Ketika membutuhkan kita, ia berbicara tentang loyalitas. Ketika kepentingannya berubah, ia berbicara tentang profesionalitas seolah-olah kedua hal itu tidak pernah memiliki hubungan.

Tentu saja, tidak semua perubahan sikap merupakan pengkhianatan. Ada hubungan yang merenggang karena perbedaan pandangan, perubahan keadaan, atau kesalahpahaman. Namun, ada pula hubungan yang sejak awal memang dibangun bukan atas dasar ketulusan, melainkan perhitungan.

Dan pola semacam ini tidak hanya terjadi di lingkungan kerja.

Dalam organisasi, seseorang bisa begitu dekat ketika membutuhkan dukungan untuk memperoleh kedudukan. Dalam dunia usaha, persahabatan bisa berubah menjadi persaingan ketika keuntungan mulai diperebutkan. Dalam lingkungan sosial, seseorang bisa hadir begitu hangat ketika kita memiliki pengaruh, lalu perlahan menjauh ketika pengaruh itu memudar.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita kadang menemukan orang yang hanya mengingat kita ketika sedang membutuhkan sesuatu.

Seolah-olah keberadaan seseorang baru memiliki arti ketika masih dapat memberikan manfaat.

Di sinilah saya melihat bahwa persoalan manusia bukan sekadar tentang siapa yang baik dan siapa yang jahat. Persoalannya jauh lebih rumit, karena kepentingan sering kali tidak datang dengan wajah yang menakutkan.

Kepentingan justru sering datang dengan senyuman, pujian, perhatian, dan bahasa persahabatan.

Ia tidak selalu mengetuk pintu sebagai musuh. Kadang ia datang sebagai sahabat yang paling kita percayai.

Filsuf Aristoteles pernah membedakan persahabatan yang didasarkan pada manfaat, kesenangan, dan kebajikan. Dalam persahabatan yang berlandaskan manfaat, hubungan dapat bertahan selama kedua pihak masih memperoleh sesuatu darinya. Ketika manfaat itu hilang, alasan untuk mempertahankan kedekatan pun bisa ikut menghilang.

Saya kira pemikiran Aristoteles ini masih sangat relevan hingga sekarang.

Betapa banyak hubungan yang tampak begitu erat ketika kedua pihak masih saling membutuhkan, tetapi perlahan kehilangan kehangatan ketika salah satunya tidak lagi memiliki sesuatu untuk ditawarkan.

Namun, yang membuat kisah Ru Chi begitu menyedihkan bukan semata-mata karena Liang memiliki kepentingan.

Dalam kehidupan, setiap orang tentu memiliki kepentingan. Bahkan persahabatan yang paling tulus pun tidak selalu bebas dari harapan dan kebutuhan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang sengaja memanipulasi kepercayaan, mempermainkan perasaan, dan menghancurkan kehidupan orang lain demi mencapai kepentingannya sendiri.

Ada perbedaan besar antara menjalin hubungan yang saling menguntungkan dan menjadikan seseorang sebagai korban demi keuntungan pribadi.

Yang pertama masih dapat berdiri di atas kejujuran. Yang kedua hanya mungkin bertahan melalui kepura-puraan.

Ada satu hal lain yang terus mengusik pikiran saya setelah menonton serial tersebut.

Ru Chi digambarkan sebagai perempuan yang sangat cerdas. Ia mampu memberikan kontribusi besar bagi perkembangan perusahaan. Namun, kecerdasan itu ternyata tidak cukup untuk melindunginya dari tipu daya orang-orang terdekatnya.

Saya kemudian bertanya dalam hati, mengapa orang yang begitu cerdas bisa begitu mudah mempercayai orang yang justru sedang merencanakan kehancurannya?

Barangkali karena kecerdasan intelektual dan kemampuan memahami karakter manusia merupakan dua hal yang berbeda.

Kita bisa sangat pandai membaca angka, tetapi keliru membaca niat. Kita bisa memahami rumus yang rumit, tetapi gagal memahami kepura-puraan yang tersembunyi dalam hubungan yang terlihat sederhana.

Dan mungkin karena itulah pengalaman hidup kadang mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.

Bahwa tidak semua senyuman merupakan tanda ketulusan. Tidak semua pujian lahir dari kekaguman. Tidak semua orang yang menawarkan tangan benar-benar ingin membantu kita berdiri.

Tetapi saya juga tidak ingin sampai pada kesimpulan bahwa kita harus mencurigai semua orang.

Sebab kecurigaan yang berlebihan dapat menjadi penjara yang kita bangun sendiri.

Kalau setiap kebaikan selalu kita curigai sebagai kepentingan, kita justru akan kehilangan kesempatan untuk menemukan persahabatan yang sesungguhnya.

Saya lebih suka memandangnya sebagai pelajaran untuk memahami manusia secara lebih dewasa.

Bahwa kepercayaan tetap diperlukan, tetapi tidak harus membuat kita kehilangan kewaspadaan. Bahwa kebaikan tetap perlu diberikan, tetapi tidak harus mengorbankan harga diri. Dan bahwa kedekatan dengan seseorang tidak otomatis memberinya hak untuk mengendalikan kehidupan kita.

Barangkali kedewasaan bukan terletak pada kemampuan kita mengenali semua orang yang berpura-pura, melainkan pada kemampuan untuk tetap menjadi manusia yang baik setelah mengetahui bahwa tidak semua orang memiliki niat yang sama.

Pada akhirnya, saya kembali memikirkan Liang.

Ia berhasil memperoleh jabatan, keuntungan, dan kedudukan yang diinginkannya. Dari luar, barangkali orang akan melihatnya sebagai sosok yang sukses.

Tetapi saya justru bertanya, apakah semua keberhasilan layak disebut kesuksesan?

Jika seseorang harus menghancurkan sahabatnya untuk memperoleh jabatan, apakah ia benar-benar sedang naik ke tempat yang lebih tinggi, atau justru sedang jatuh ke tempat yang lebih rendah secara moral?

Kita sering mengukur keberhasilan manusia dari apa yang berhasil dikumpulkannya: kekayaan, kekuasaan, jabatan, dan pengakuan.

Padahal, mungkin ukuran yang lebih penting justru terletak pada apa yang tidak dikorbankannya selama perjalanan menuju keberhasilan itu.

Sebab tidak semua orang yang mencapai puncak pantas disebut berhasil. Ada yang sampai ke sana dengan kemampuan dan kerja kerasnya sendiri. Ada pula yang sampai dengan menjadikan orang lain sebagai anak tangga, lalu menendangnya setelah merasa cukup tinggi.

Yang pertama membangun keberhasilan. Yang kedua membangun kemenangan di atas kehancuran orang lain.

Dan kedua hal itu jelas tidak sama.

Saya juga semakin memahami bahwa pengkhianatan tidak selalu lahir dari kebencian.

Kadang seseorang mengkhianati bukan karena ia membenci kita, tetapi karena ia lebih mencintai kepentingannya sendiri.

Ia mungkin tidak pernah menganggap kita sebagai musuh. Ia bahkan mungkin merasa nyaman bersahabat dengan kita. Namun, ketika harus memilih antara mempertahankan persahabatan atau memperoleh sesuatu yang diinginkannya, ia tidak ragu mengorbankan hubungan itu.

Barangkali inilah sisi manusia yang paling sulit dipahami: seseorang bisa terlihat begitu dekat, tetapi pada saat yang sama sedang menghitung kapan kedekatan itu tidak lagi diperlukan.

Maka, jangan terlalu cepat mengukur ketulusan dari seberapa sering seseorang hadir ketika membutuhkan kita.

Lihatlah bagaimana ia memperlakukan kita ketika kita tidak lagi memiliki sesuatu yang dapat diberikan.

Apakah penghormatannya masih sama? Apakah persahabatannya masih memiliki kehangatan? Apakah ia tetap mampu menghargai kita meskipun keberadaan kita tidak lagi memberikan keuntungan?

Sebab boleh jadi, di situlah wajah persahabatan yang sebenarnya mulai terlihat.

Lucunya, semua perenungan ini berawal dari sebuah film yang saya tonton sekadar untuk mengisi waktu senggang.

Dari kisah Ru Chi, Liang, dan Bai, saya justru kembali mengingat kenakalan masa SMA bersama teman-teman yang pernah bersekongkol menjodohkan teman perempuan kami dengan si jago kimia.

Dulu, kami mungkin menganggapnya sekadar strategi agar bisa memperoleh jawaban ujian. Sekarang, kenangan itu membuat saya tersenyum sekaligus menyadari bahwa manusia memang sejak lama memiliki kecenderungan mencampurkan hubungan dengan kepentingan.

Hanya saja, ketika dewasa, permainan itu kadang tidak lagi sesederhana nilai ujian.

Ada reputasi yang dipertaruhkan. Ada masa depan yang bisa dirusak. Ada kepercayaan yang dihancurkan. Bahkan ada kehidupan seseorang yang dapat berubah hanya karena ambisi orang yang selama ini dianggap sebagai sahabat.

Mungkin karena itulah kita perlu belajar membedakan antara orang yang menyukai diri kita dan orang yang hanya menyukai manfaat yang bisa diperoleh dari kita.

Keduanya mungkin menunjukkan perhatian yang sama. Keduanya mungkin mengucapkan kata-kata yang sama. Bahkan keduanya mungkin hadir pada waktu yang sama.

Tetapi waktu dan keadaan sering kali memperlihatkan perbedaannya.

Orang yang tulus menghargai kita sebagai manusia. Orang yang hanya memiliki kepentingan cenderung menghargai kita selama kita masih berguna.

Dan ketika kegunaan itu berakhir, barulah kita mengetahui apakah selama ini kita benar-benar memiliki seorang sahabat, atau hanya sedang menjalankan peran dalam rencana seseorang.

Meski demikian, saya tetap percaya bahwa kehidupan tidak boleh dijalani dengan prasangka kepada semua orang. Sebab tidak adil jika ketulusan banyak manusia harus diragukan hanya karena kepura-puraan segelintir orang.

Kita tetap perlu percaya, tetap perlu bersahabat, dan tetap perlu membuka ruang bagi orang lain untuk hadir dalam kehidupan kita.

Hanya saja, jangan sampai keinginan untuk dipercaya membuat kita lupa bahwa kepercayaan juga membutuhkan kejujuran dan tanggung jawab.

Pada akhirnya, saya sampai pada satu perenungan sederhana:

Musuh yang berdiri di hadapan kita mungkin membuat kita lebih berhati-hati. Tetapi sahabat yang diam-diam menjadikan kita sebagai alat kepentingannya dapat membuat kita tidak menyadari bahaya sampai semuanya terlambat.

Dan barangkali, tragedi terbesar dalam sebuah persahabatan bukan ketika dua orang akhirnya menjadi asing.

Melainkan ketika salah satunya baru menyadari bahwa selama ini ia menganggap hubungan itu sebagai persahabatan, sementara yang lain menganggapnya sebagai kesempatan.

Karena tidak semua orang yang berjalan bersama kita ingin melihat kita sampai di tujuan. Sebagian hanya membutuhkan kita untuk mengantarkan mereka ke tujuannya sendiri.

Dan setelah sampai, mereka bahkan mungkin lupa bahwa kita pernah berjalan bersama.

Ah, untung saja dulu kepentingan kami hanya sebatas jawaban ujian kimia.

Walaupun kalau dipikir-pikir sekarang, teman perempuan yang kami paksa untuk berpacaran itu mungkin justru punya cerita lain tentang kelakuan kami.

Hehehe.

Bagikan artikel
WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn